You are here:

Techbooter : Games, Cheats, News, Reviews, and Previews, Rapidshare, Mega Upload, Easy Share

SEX >>> CARA MEMAHAMI SEKS/SEX SECARA SEHAT

E-mail Print PDF

TULISAN ini ditujukan untuk menanggapi komentar mereka yang ada di tulisan-tulisan saya sebelumnya, termasuk pertanyaan kompasianer Bambang Gareng Nilwanto dalam  Seks: Barat Vs Timur. Juga bagi mereka yang mungkin masih bingung dengan hal yang sama.

Seks yang sehat bisa dilihat dari berbagai macam sudut pandang yang berbeda. Tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Tentu saja ini juga pasti masih akan kontroversial, mengingat cara berpikir dan pengalaman setiap orang berbeda-beda. Setiap generasi, setiap budaya, setiap bangsa juga berbeda-beda. Kita juga tidak mungkin menyatukan satu pandangan terhadap persoalan ini. Hanya saja, mengapa sampai kemudian badan organisasi internasional pun turun tangan? Soalnya, ini menyangkut masa depan umat manusia. Kesehatan adalah faktor yang menyatukan perbedaan ini semua.


Bila kita melihat dari sisi medis dan biologis, seks yang sehat adalah seks yang bisa memenuhi kebutuhan fisik seseorang. Maksudnya adalah memberikan kepuasan secara fisik dan dilakukan secara rutin. Setiap orang dewasa dianjurkan untuk melakukan hubungan seks dengan pasangan paling tidak seminggu dua kali. Tujuaannya adalah untuk menyeimbangkan hormon-hormon yang ada di dalam tubuh, memperlancar peredaran darah, dan untuk relaksasi, mengingat setiap kali orgasme, ada hormon endorphine (penenang), yang dikeluarkan oleh tubuh. Selain itu juga untuk menjaga agar organ-organ seksual kita tetap berfungsi dengan baik.

Pertimbangan usia juga harus dipikirkan. Ada banyak faktor seperti melakukan hubungan seksual di usia dini, yang bisa meningkatkan resiko terkena berbagai macam penyakit, seperti kanker leher rahim. Begitu juga dengan penyakit lain yang diderita, seperti diabetes dan jantung, di mana hubungan intim bisa berpengaruh terhadap penyakit mereka. Karena itulah sangat dianjurkan untuk konsultasi dengan dokter mengenai hal ini.

Seks yang tidak sehat bila dilihat dari sisi medis dan biologis adalah apabila sudah menganggu kesehatan fisik seseorang. Seperti misalnya saja perilaku yang bisa mengakibatkan terkena penyakit kelamin dan gangguan fungsi organ seksual. HIV dan AIDS, contohnya.

Lain lagi kalau kita melihat seks yang sehat dari sisi psikologis, di mana perilaku seksual manusia atau aktivitas seksual manusia berhubungan erat dengan perilaku berdasarkan pengalaman dan cara mengekspresikan seksualitas mereka. Ada banyak sekali sisi yang bisa kita lihat berdasarkan perilaku, seperti bagaimana cara menarik perhatian lawan jenis, interaksi antar individu secara seksual, cara berhubungan seksual, dan juga kegiatan fisik serta emosional seseorang dalam melakukan seks. Ini juga bisa dilihat baik secara individu maupun dalam berpasangan.

Kepuasan seksual itu sendiri dijabarkan sebagai kenikmatan yang diperoleh dari aktivitas yang dilakukan oleh setiap individu. Kebanyakan, sih, dari orgasme yang dilakukan dengan pasangan ataupun sendiri (masturbasi). Tetapi banyak juga kepuasan yang diperoleh dengan cara lain, seperti lewat mengintip, mempertontonkan, ataupun dengan melakukan kekerasan (BDSM), serta berbagai aktifititas lainnya yang secara psikologis dianggap menyimpang (paraphilia).

Nah, tentu saja, hal ini bisa  sejalan atau bertentangan dengan sosial, budaya, agama, moral, etika, hukum, dan peraturan yang berlaku. Tergantung di mana? Contohnya saja misalnya, dengan orang yang suka berhubungan dengan sesama jenis. Secara psikologis, sekarang ini sudah masuk dalam kategori sebagai “pilihan hidup”, namun bagaimana bila kita melihatnya dari sisi sosial, budaya, agama, moral, etika, hukum, dan peraturan yang berlaku di Indonesia. Bandingkan saja dengan yang ada di Belanda. Beda banget, kan?

Seks yang tidak sehat, secara psikologis, adalah perilaku yang bisa menyebabkan seseorang terkena gangguan kejiwaan, baik secara emosional maupun pikiran. Contohnya saja, orang yang terobsesi dengan selalu ingin menonton film porno, melihat gambar porno, dan bicara hal-hal yang porno, yang kemudian membuat orang ini tidak lagi bisa konsentrasi dalam melakukan hal-hal yang lain.

Pandangan sosial yang oleh sebagian pakar disebut sebagai “holisme”, yang menyatakan bahwa pada hakekatnya Anda merupakan wahana di mana masyarakat dan kebudayaan mengungkapkan dirinya, adalah salah satu contoh pandangan sosial yang bisa dengan mudah mendeskripsikan bagaimana pandangan seks yang sehat secara sosial. Dapat diartikan bahwa, seks yang sehat, yang Anda lakukan, harus sesuai dengan norma sosial dan kebudayaan serta istiadat dan peraturan yang berlaku, di tempat Anda tinggal. Kalau tidak sesuai, maka dianggap tidak sehat.

Misalnya saja soal perempuan yang melamar pria. Pada umumnya, di sebagain besar peraturan sosial yang berlaku di dunia, ini sangatlah tidak masuk di akal dan tidak sehat. Tapi bagaimana dengan di daerah Pariaman, Sumatara Barat sana, sungguh berbeda. Karena keturunan di daerah itu bawaan dari ibu (matrenal), maka lumrah saja kalau wanita yang melamar pria. Lagi pula, ada banyak alasan lain kenapa mereka bisa memiliki budaya yang unik seperti ini ini karena pandangan soal “tanggung jawab” suami terhadap istrinya pun sedikit berbeda.

Budaya “kumpul kebo” yang oleh kebanyakan masyarakat Indonesia dianggap melanggar norma dan etika, menjadi tidak masalah bila dilakukan di Amerika Serikat, misalnya. Sisi pandang seks yang sehat secara budayanya, soalnya berbeda. Begitu juga dengan sisi pandangnya secara hukum. Kalau di Indonesia, sudah jelas melanggar hukum dan bisa dikenakan pasal undang-undang tentang perbuatan asusila, sementara di Amerika, silahkan-silahkan saja. Ya, kan? Maka dari itu, pandangan hukum jelas sangat berpengaruh terhadap apa yang disebut dengan seks yang sehat.

Berbagai perbedaan pendapat mengenai seks yang sehat dan tidak sehat ini dari berbagai pandangan displin ilmu ini,  menurut saya, tidak bisa kita pilah satu persatu. Tidak bisa dipisahkan perbagian-bagian. Harus merupakan sebuah kesatuan. Satu paket!!!  Soalnya, masalah mengenai seks sendiri menyangkut semua disiplin ilmu ini. Juga harus diselesaikan secara menyeluruh. Tidak bisa sepotong-sepotong.

Oleh karena itulah, menurut saya pribadi, seks yang sehat adalah seks yang bisa memenuhi seluruh aspek dalam kehidupan manusia. Baik secara medis, biologis, psikologis, mental, sosial, budaya, norma, etika, hukum, peraturan, dan berbagai aspek yang berpengaruh lainnya. Apa tujuannya? Bagaimana bentuknya? Siapa yang melakukannya? Bagaimana caranya? Sehingga kemudian, saya melihat ada satu persamaan di mana bila kita melihat seks secara spiritual, di mana-mana sama. Seks yang sehat secara spiritual, menurut saya,  adalah sebagai curahan atas “jiwa yang positif” yang bisa memberikan dan mengalirkan “energi positif” ke seluruh alam jagat raya ini, yang kemudian bisa menciptakan ketenangan, ketentraman, dan kedamaian setiap insan, baik secara individu maupun kelompok, serta bagi seluruh makhluk dan ciptaan Tuhan di seluruh alam semesta. Sedangkan seks yang tidak sehat secara spiritual, adalah kebalikannya. Merusak dan menghancurkan keberadaan kita dan juga makhluk-makhluk lain yang ada di muka bumi ini, serta bagi seluruh mahkluk ciptaan Tuhan di seluruh alam semesta. Sebuah harmoni dalam yang luar biasa dahsyat dan indahnya sebagai ungkapan rasa syukur terhadap dan rahmat yang diberikan oleh-Nya sebagai manusia.

Saya tidak bisa membahas seks secara spiritual ini lebih panjang lebar lagi karena harus diuraikan secara lebih mendetail dan lebih mendalam lagi. Bila Anda ingin mempelajarinya, ada banyak, tuh, buku-buku filsafat yang bisa dipelajari. Saya tidak bisa memaksakan pandangan saya ini, tetapi saya sangat berharap ada pembaca yang mau mempelajarinya secara lebih seksama dan lebih mendalam lagi. Pasti akan ada pandangan lainnya terhadap seks yang sehat dan tidak sehat secara lebih “utuh” dan “menyeluruh”. Syukur-syukur ada yang bisa membahasnya lebih dalam lagi. Ini harapan saya.

Demikian, terima kasih. Semoga tulisan ini bisa memberikan jawaban sekaligus memberikan banyak manfaat.(asa)

 

Last Updated ( Monday, 01 March 2010 14:31 )